Senin, 10 Desember 2012


“Aku Belum Sempat Memiliki Nafasmu”
Terinspirasi dari kisah nyata

Akankah ada hari seperti hari-hari itu lagi.?

Kisah ini berawal ketika gadis itu memasuki kenaikan kelas 3 SMU……

Gadis itu bernama "Reza",seorang gadis kecil yang beranjak dewasa. Berkulit putih, dengan tinggi 160cm, berambut hitam panjang hampir sebokong. Gadis itu cukup terlihat sempurna di mata lelaki. Tak sedikit laki-laki yang ingin mendapatkan hatinya. Tapi tak satupun yang ia hiraukan.
Kala itu ketika baru pertama gadi itu memasuki ajaran pertama tahun ke-3 di sekolahnya. Pagi yang cerah suara merdu nyanyian burung-burung yang telah mengiringi hari pertama di kelas baru dan teman-teman barunya. Tiba-tiba, terdengar suara lari siswa laki-laki sambil terengah-engah dan langsung memasuki kelas.

Pagi busiswa itu memberikan salam kepada guru dan teman-temannya.
Maaf bu terlambat...
Ya silahkan masuksaut ibu guru.
Terima kasih bu...ucapnya sambil menoleh kanan kiri untuk mencari bangku yang kosong. Karena sudah tak ada satupun bangku yang kosong, karena "Reza" masih duduk sendiri,tepat di depan bangku guru lajur paling kiri dan baris paling depan. Ia mencoba menawarinya tempat duduk. Dan mulai hari itu siwa laki-laki itu adalah teman sebangkunya sampai kelulusan nanti.
Sambil pelajaran pertama di mulai mereka saling berkenalan.

Diasiwa laki-laki itu bernama "Deni".
Waktu silih berganti...
Hari demi hari
Bulan berganti bulan
Tak terasa waktu telah berjalan tiga bulan
Mereka semakin akrab, semakin dekat. Canda tawa riang Deni telah menghiasi setiap sudut hati Reza.
Tanpa di sadari telah tumbuh benih-benih cinta di antara mereka.

"Deni", laki-laki berbintang Sagitarius itu telah mampu mencuri hati Reza. Dia beda dari laki-laki yang lainnya. Walaupun sebelumnya tak sedikit laki-laki yang mencoba mendekatinya dan berusaha menyatakan cintanya kepadanya. Namun tak pernah seorangpun yang di terimanya.
"Deni", dia adalah seorang siswa laki-laki paling pintar di kelasnya. Anak dari pasangan P.Nari dan Ibu Kusmirah pemilik bengkel reparasi di kota Wadung, banyuwangi barat itu telah mampu mencuri hati gadis cantik itu. Akhirnya Reza pun tak kuasa menolak ungkapan cintanya. Dan akhirnya cinta mereka bersatu.

Tanpa terasa waktu telah mereka lewati dengan
Suka duka...
Canda tawa...
Telah mewarnai hari-hari mereka. Setiap minggu "Deni" sering main ke rumah nya. Dan kebetulan salah seorang saudaranya adalah tetangga dekat dari Reza.
Hingga sampai pada  pertengahan juni 2008 mereka para siswa-siswi telah menerima kelulusan. Karena keadaan perokonomian keluarga gadis itu tidak mendukung untuk ia melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, akhirnyapun gadis itu berencana untuk mencari pekerjaan tanpa meneruskan pendidikannya. Di sisi lain kekasihnya(Deni) berencana ingin meneruska pendidikannya di sebuah Universitas Negeri ternama di Surabaya.

29 Juni 2008
Pagi itu Deni datang ke rumah Reza, berpamitan berangkat mendaftar kuliah di Surabaya. Dan berencana hanya mengendarai motor bersama salah seorang temannya. Reza hanya bisa memberikan doa supaya di terima dan lancar di perjalan.
Keesoka harinya ketika matahari tepat di titik tertinggi di atas kepala,entah apa yang ia rasakan saat itu.

Fikiran cemas...
hatinya gelisah...
Tak biasanya aku seperti ini, Sudah seharian ini dia tak mengirimkan SMS atau menolfonku (batinnya)
Ya Tuhan Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa dengannya...Doa gadis itu ketika selesai menunaikan ibadah shalat dzuhur.
Sampai keesokan harinya SMS atau telfonpun tak kunjung datang. Dan akhirnya mas Nani dan mbak Eniah(salah seorang tetangga "Reza" yang juga saudara dekat "Deni") datang ke rumah Reza mencari Orang tuanya.
Tak biasanya mereka datang ke sini...!! ada perlu apa mereka.!? batin gadis itu sambil memanggil Ayahnya yang sedang mengotak-atik sebuah radio milik tetangga di teras belakang. Ya, Ayahnya adalah seorang reparasi elektronik satu-satunya di daerahnya.
Ayahnya pun menemui tamu itu.Terlihat dari jauh sepertinya mereka bicara sangat serius dengat raut wajah kaget dan suram dari Ayahnya.karena merasa heran "Reza" mencoba menghampiri obrolan mereka.

Bapak ada apa,kok kelihatannya serius banget.?
Panggil ibumu dulu kemari nduk. Saut Ayahnya menjawab pertanyaannya.
Segera ia berlari menuju dapur untuk memanggil ibunya yang sedang mengukus nasi di dapur. Ketika ibunya sudah datang "Reza" duduk di antara mereka yang di temani oleh seorang adik perempuannya.

Begini nduk...tenangkan hatimu dulu...(gadis itu semakin penasaran mendengarkan perkataan Ayahnya barusan) apa yang sebenarnya terjadi.?
Begini nduk,tujuan mas Nani dan mbak Eniah kemari adalah ingin memberi tahukan keadaan pacarmu nak Deni...
Ada apa dengan mas Deni pak.? sautnya tersentak dengan hati yang bertanya-tanya.
“Begini, kemarin waktu sepulang dari Surabaya, di tengah perjalan nak Deni mendapat musibah. Motor yang di kendarai tersrempet truk sehingga membuat nak deni terjatuh dan tertabrak oleh truk itu”. Bibir sang ayah bergetar dan mata yang berkaca-kaca seakan tak kuasa mengucapkan kalimat lagi. Seraya laki-laki separuh baya itu langsung memeluknya dan berkata Sekarang jasad nak Deni sudah di bawa pulang, nanti sore akan di makamkan nduk
Tubuhnya lemas dengan nafas yang ter esak-esak. Hatinya menjerit, segumpal air mata telah membanjiri pundak baju kemeja yang di kenakan Ayahnya. Seketika suasana menjadi haru biru...
Aku tak percaya ini. Kalian semua bohong...(jeritnya)
Apakah aku sedang bermimpi(batin gadis itu). Keadaan yang ingin terbangun dari mimpi buruk ini membujuk dan menghelaknya untuk segera memastikan hal yang tidak ia harapkan itu.
Serombongan dengan mas Nani, ia beserta bapak dan ibunya segera bertandang melayat ke kediaman keluarga "Deni".
Di perempatan besar sekitar 200 meter dari kediamannya mulai di dapati para ibu-ibu berjalan menjinjing ember yang berisikan beras bertutup taplak. Segrombolan bapak-bapak menyayat bambu di sungai kecil samping rumahnya. Sederetan laki-laki bersongkok membaca Yaasin dan Tahlil di ruang depan. Mulai tercium bau anyir dan pekat hawa sang Izrail telah merata di rumah ini. Terlihat ibu Kusmirah(ibu dari Deni) duduk termenung di ruang belakang dengan wajah pucat, mata sembab dan bibir mengering dengan pandangan yang kosong. Sambil di temani P.Nari(ayah dari Deni) yang mencoba menguatkan dan menenangkan hatinya(ibu Kusmirah). Segera ku berlari ke pelukkan mereka.
Ibuk,bapak ada apa ini,apa yang terjadi.? Suara serak menggondok dengan air mata yang terus bercucuran dari matanya mencoba untuk bertanya. Mereka diam tanpa sepatah jawaban. Gadis itu berlari ke ruang tengah, Terlihat sebujur tubuh kaku yang di tutupi kain jarik. Dia dekap tubuh itu dan mencoba membuka sehelai kain jarik yang menutupi wajah tubuh itu.
Tak asing,Sudah tak asing lagi... Wajah dari tubuh yang terbujur kaku itu.
Benar, benar dia adalah Deni. Sosok laki-laki yang sangat di tunggu-tunggu sms dan telfonnya akhir-akhir ini. Gadis itu pun tak kuasa membendung air matanya.
dia berbisik ke telinga jenazah itu.

"Den bangun Den bangun...(sambil mengoyak-ngoyak tubuh itu)
Bangun Den... apakah kau dengar suaraku.? apakah kau sudah tidak mengenali aku.?
Kenapa kau tega meninggalkan ku Den..Sontak histeris,jerit tangis suaranya semakin kencang. Pakde bersama dengan bapaknya menarik tubuh gadis itu, mencoba melepaskannya dari pelukan ke tubuh tak bernyawa itu. Ia berontak,meronta-ronta seolah tak ingin melepaskan pelukannya. Ia pun akhirnya hilang kesadaran dan bapaknya langsung membopong membawanya ke kamar tengah.
sudah nduk,istighfar nduk,relakan ikhlaskan kepergiannya. dia telah kembali kepada sang pencipta. Dia telah mendapatkan tempat yang lebih baih dari dunia ini. Ikhlaskan nduk… Ikhlaskan. ketegaran hati dari ayahnya yang membisik di telinganya.
Beberapa jam kemudian semua pelayat mulai berangkat menuju ke pemakaman.

Tak sanggup rasanya hati ini,tak kuat rasanya tubuh ini,hanya isak tangis dan beribu doa yang sanggup aku haturkan padamu.
Hari-hari pun berlalu.sampai tujuh hari setelah kepergiannya iapun masih sering datang ke rumah almarhumnya untuk sekedar menghantarkan sebuah doa.
Kini kicau burung pagi tak lagi seindah dan semerdu ketika mereka masih melalui hari-hari bersama. 

Mimpinya pecah, seolah-olah ia merasa mati sebelum Tuhan menciptakan kemtiannya sendiri.

Aku belum sempat memilki nafasmu...


Kini gadis itu menjalani hidupnya dengan normal kembali. Walaupun tersimpan berjuta keperihan di hatinya. Sekarang ia bekerja di sebuah dealer resmi Yamaha di kotanya.



Oleh:SUHARNO                                                                                                      Guji-14-agustus-2011
========================================================================

Tidak ada komentar:

Posting Komentar